ORANGECAKE Creative: Suara-Suara Itu Darimana?

ORANGECAKE Creative: Suara-Suara Itu Darimana?: Dulu beberapa tahun yang lalu gue menangkap pelajaran di AlQur'an, bahwa suatu berita harus dikonfirmasikan kebenerannya. Apa boho...

Ini tulisan gue tentang siapa aja sih dibalik kampanye anti-rokok.

Don't Tell Them If We Talk About Indonesia




Karena postingan gue sendiri di blognya ORANGECAKE Creative, gue jadi pengen ngeben lagi. Pada akhirnya gue ditantang untuk menciptakan lagu sendiri dengan menyampaikan propaganda nasionalisme. Setelah brainstorming akhirnya terciptalah lagu ini.



Judul: 
Don't Tell Them If We Talk About Indonesia

Lirik:
Apanya yang pertumbuhan ekonomi
Bagi kami hanya euforia semu
Ekonomi hanya milik orang kaya raya
Tak merata bagi semua bangsa Indonesia

Tidakkah kamu menuntut keadilan
Walaupun kuping para penguasa telah tuli
Kita disini dipermainkan segelintir orang
Yang selalu haus akan kekuasaan dan serakah

Coba buka matamu dan lihatlah
Sodaramu begitu banyak kemiskinan
Gerakkanlah hatimu untuk menegakkan
Keadilan untuk semua bangsa Indonesia

Tidakkah kamu menuntut keadilan
Walaupun kuping para penguasa telah tuli
Kita disini dipermainkan segelintir orang
Yang selalu haus akan kekuasaan dan serakah


Coba buka matamu dan lihatlah
Sodaramu begitu banyak kemiskinan
Gerakkanlah hatimu untuk menegakkan
Keadilan untuk semua bangsa Indonesia


Wahai pemuda-pemudi penerus bangsa
Lihatlah sekelilingmu! Tetanggamu!
Apakah mereka membutuhkan bantuan?
Apakah mereka membuatmu iba?
Janganlah malu untuk bergerak!
Janganlah malu untuk berbuat kebaikan!
Beranilah! Beranilah berbuat kebaikan!

Coba buka matamu dan lihatlah
Sodaramu begitu banyak kemiskinan
Gerakkanlah hatimu untuk menegakkan
Keadilan untuk semua bangsa Indonesia

Coba buka matamu dan lihatlah
Sodaramu begitu banyak kemiskinan
Gerakkanlah hatimu untuk menegakkan
Keadilan untuk semua bangsa Indonesia
Semua bangsa Indonesia
Semua bangsa Indonesia

Kalo dilihat lebih ke arah kritik sosial daripada propaganda nasionalisme hahaha. Tapi pada dasarnya nasionalisme yang gue ngerti salah satunya adalah dengan peduli dengan sesama, sosialisme lah kata orang akademisi. Tapi bukan sosialisme yang menghalalkan cara, tapi sosialisme yang dibatasi dengan norma-norma kebaikan.

Gue pengennya nama band project seperti judul lagu ini, Don't Tell Them If We Talk About Indonesia jadi penyebutannya gue lebih suka begini "DOTTIWETABI" DOn't Tell Them If WE TAlk About Indonesia. Gue juga pengennya salah satu ciri khasnya adalah pembacaan lirik seperti membaca puisi. Gue gak jago baca puisi, yang lebih berpengalaman baca puisi itu si DF #eh (jadi lo tau kan inspirasinya siapa :p) sebenernya inspirasinya bukan dia sih, tapi gegara lagunya DIVIDE - Titik Dalam Koma pas bagian semua personil pada kayak pembacaan naskah gitu. Gue sekarang lagi dengerin Thirteen, dan lagu Titik Dalam Koma kayak lagu Take Your Foot Out of My Door (btw gue penasaran abis sapa clean vokal di lagu ini, mirip banget sama karakter suaranya Sansan pas di Killms).

Ngomong-ngomong jadi banyak ide nih. Pengennya this project kayak Gorillaz gitu jadi penggabungan visual art + audio (btw yang kayak gini banyak banget sekarang, bahkan jadi urban culture tapi gue belum lihat kayak gimana orang-orang ini perform). Pengen kayak Gorillaz dikarenakan tidak memiliki personil band hahahah. Kalo memilih genre punk 3-4 orang aja cukup sebenernya, cuma gue masih nemu drummernya doang. Tapi bagi gue personil yang kurang itu gak masalah, yang penting kalo diundang main pake additional player yang banyak hahahaha. Dochi PWG juga sempet dateng ke studio rekaman sendirian terus diejek sih sama yang punya studio hahahah.

Oke sekian dulu. Terakhir gue lagi terobsesi sama ini cewek yang gak taunya pada dasarnya dia juga selain dikenal sebagai gitaris death metal kerjanya berhubungan dengan visual art. Enjoy!



sesudah nulis post ini gue juga bikin video art buat lagu ini. minimalis banget tapinya :D
Enjoy!


Dan bisa juga donlot video ini sama mp3 nya di sini :)

Proses Menghasilkan Design




Dulu gue berpaham idealis dengan mengatakan bahwa desain gue itu bukan merchandise yang dijual banyak orang di jalanan tapi sebuah karya, sebuah art yang penuh dengan proses-proses kreatif dan dijual terbatas. Gue sadar itu pikiran seorang seniman, mungkin gegara dulu gue nongkrongnya sama seniman musik, lalu guru musik gue yang ngasi ujian untuk membuat sebuah lagu, itu semua membuat gue berpaham seniman.

Yah, meskipun pada akhirnya gue banyak belajar bisnis dari artikel-artikel yang gue baca tapi pemahaman seperti ini ternyata mendarah daging di otak gue. ORANGECAKE kalo dilihat perkembangannya memang gue bikin dasarnya dari pemahaman ini. Dari jumlah cetaknya yang sedikit, desain-desain yang penuh konsep dan sangat sulit buat dicerna. Hahahha.

Tapi setelah ketemu cak bendera yang ngajar desain grafis di kampus gue tentang "desain harus universal untuk menyampaikan pesan" membuat gue merasa gagal kalo desain-desain yang gue hasilkan ternyata tidak mampu dipahami oleh orang lain. Hahhaha.

Jadi inget. Kalo ditarik ke belakang lagi, gue pernah nongkrong sama Mr. Wadi, orang yang ternyata doyan banget berfilsafat. Lingkungan gue juga penuh dengan orang-orang filsuf juga. Sang Guru Besar juga sering banget ngasi pelajaran seperti itu. Kalo bahasa beliau disebut "Perumpamaan-Perumpamaan, Tassajudil Makna".

Intinya, gue merasa bisa disejajarkan dengan band indie yang berpaham bahwa "ngeband bukan buat mencari uang, tapi mencari uang buat ngeband". Mereka yang jarang-jarang untuk dapet inspirasi untuk membuat sebuah lagu. Mereka yang ngeluarin uang banyak untuk merekam sebuah lagu. Mereka yang bener-bener bersemangat untuk mengemas album mereka. Mereka yang susah sekali untuk balik modal buat menjual album mereka.

It's not for the money. Gue merasa akhir-akhir begitu untuk menjalankan ORANGECAKE. Entah mungkin untuk sekarang atau seterusnya. Entah apa pemahaman ini juga dimiliki oleh clothing line yang berafiliasi dengan musik indie. Tapi overall, gue tau apa yang gue lakukan.
Gue juga tau kalo orang yang berjualan pasti promo tentan apa yang dijualnya :)

Salam keberanian,
Jojoz